Rabu, 20 Juli 2016

Selepas tiba ditempat nenek, pada hari pertama diisi full oleh kegiatan - kegiatan bersama seperti ngumpul keluarga, masak bersama dan makan bareng satu keluarga. Karena kami bermalam di tempat nenek selama kurang lebih satu minggu, jadi setiap harinya kita menyempatkan diri untuk menunjungi tempat-tempat menarik yang ada di tempat nenek tepatnya di Kab. Kutai Barat.

Dan sesuai dengan perkataan saya pada postingan sebelumnya,  jadi pada postingan kali ini saya akan menceritakan salah satu tempat menarik yang saya sempat explore pada hari kedua di kutai barat. Apakah tempat itu? Oke, langsung saja!

Jadi hari kedua di kutai barat, mama saya tanpa di rencanakan mengajak ke tempat rumah adat Dayak yaitu lamin yang jaraknya tidak jauh dari desa awai, kurang lebih hanya 10 km. lamin ini bukan sekedar lamin, namun lamin ini sempat booming pada waktunya sebagai obyek wisata karena daya tarik budayanya di mata wisatawan.

Nama laminnya adalah "Lamin Pepas Eheng". Kata lamin mempunyai arti "rumah panjang" sedangkan Pepas Eheng merupakan nama desa tempat dimana lamin itu didirikan. Lamin Pepas Eheng sendiri didirikan sudah lumayan lama sejak tahun 1962 dan mempunyai panjang 125 meter, untuk pembentukannnya tentu dilakukan secara bergotong royong oleh warga dayak di pepas eheng

Lamin Pepas Eheng.
pintu utama lamin

Setibanya disana, saya tidak melihat begitu banyak orang di sekitar lamin itu, hanya ada 3 anak yang bermain bersama di depan lamin. hmm...mungkin saya datang tidak di waktu yang tepat. Tidak berpikir panjang, saya langsung mengambil kamera untuk mangabadikan beberapa gambar disekitar lamin ini.

Lamin ini secara keseluruhan terbentuk oleh kayu. Pondasi / tiang berasal dari kayu ulin, kayu ulin sendiri merupakan salah satu kayu yang kuat dan kokoh dan paling sering ditemukan di kalimantan. sama halnya dengan atap, atap lamin juga menggunakan kayu ulin yang mana menjaga atap lamin agar tidak lapuk bahkan katanya jika kena air akan lebih kuat. Sedangkan untuk dinding dan lantai lamin menggunakan papan-papan kayu meranti, sama kuatnya dengan ulin menjaga agar lamin tetap kokoh bahkan bila di terpa angin kencang sekalipun.

keunikan lamin Pepas eheng tidak sampai situ saja, saya melihat ada beberapa "belontakng" yang berdiri tepat di depan lamin. belontakng sendiri adalah Patung yang berukiran seperti wajah dan badan manusia. menurut beberapa sumber yang saya baca, belontakng sengaja digunakan untuk mengelabuhi roh jahat atau makhluk halus agar tidak menggangu manusiaDalam kegiatan adat dayak juga khususnya dayak benuaq, patung belontakng biasanya digunakan untuk mengikat sapi atau kerbau yang akan disembelih atau dikorbankan pada acara adat itu. 




Setelah lumayan lama mengabadikan momen lamin dari luar, mama saya mengajak masuk kedalam lamin. Sangat excited sekaligus penasaran karena saya tidak mengharapkan untuk masuk kedalam lamin sebelumnya.

Di dalam lamin, mama saya bertemu dengan salah satu penghuni lamin yang tidak disangka adalah teman sebayanya ketika dibangku sekolah dasar. kemudian beliau berbagi cerita terkait lamin pepas eheng yang katanya Di lamin Pepas Eheng sendiri terdapat 30 lebih kepala keluarga yang tinggal dan menetap, untuk membagi tempat biasanya hanya menggunakan sekat-sekat. Beliau juga melihatkan saya  beberapa kerajinan khas Dayak yang mereka buat dan dijual bagi wisatawan seperti, anjat / yang biasa disebut "gawakng" , gelang rotan, dan juga mandau.

kerajinan yang dilakukan oleh penghuni lamin.

tampak lamin dari dalam.
Sambil mendengarkan beliau becerita, saya melihat ada sesuatu yang ganjil di dalam lamin yang langsung saya tanyakan, "kenapa lamin ini sepi penghuni?" saya tanyakan kepada mama.

"Sebagian dari mereka ada yang keluar berladang dan ada yang mempunyai urusan lain", jawab, mama.

"Oke, waktu saya memang tidak tepat", pikir saya

Sebelum pulang dari lamin, saya tertarik untuk membeli salah satu kerajinan yang mereka buat sebagai kenang-kenangan. saya membeli "gawakng".
kata "gawakng" sendiri diambil dari bahasa dayak benuaq yang artinya anjat / tas rotan.


Gawakng.

Sangat disayangkan jika melihat kondisi lamin secara keseluruhan. kurangnya perhatian pemerintah menyebabkan lamin ini menjadi kurang terawat dan kurang diminati wisatawan. Saya juga melihat ada banyak rumput liar bertumbuhan dan sampah berserakan di depan lamin, padahal seharusnya tempat budaya seperti ini yang harus utuh bahkan dilestarikan karena lamin ini sendiri yang menjadi identitas mereka sebagai suku dayak.



Keluar dari lamin menuju mobil, saya melihat anak-anak yang bermain di depan lamin yang membuat saya di satu sisi bahagia melihat mereka karena mereka belum terpengaruh oleh era modernisasi termasuk gadet smartphone dan sejenisnya namun di satu sisi saya juga cemas, apakah mereka akan meninggalkan budaya mereka? saya juga tidak bisa menyalahkan karena era modernisasi selalu berjalan dan tidak dapat dihentikan yang tentu membuat mereka pelan-pelan meninggalkan kebiasaan mereka. Saya hanya bisa berharap semoga tidak terjadi degradrasi budaya.


P.s : mohon saran dan kritiknya ya, soalnya baru belajar nulis. terima kasih :))

6 komentar:

  1. Sepertinya menarik, dan saya belum pernah menjelajah sampai ke sini. Jika nanti ada waktu bisa antar ke sini?

    Wirawan Winarto
    http://www.tunawisma.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo tidak sibuk dengan senang hati mas :d

      Hapus
  2. suka, aku suka sekali melihat banyak kearifan lokal di suatu tempat jadi pingin banget ke kutai ini.kapan ya????

    BalasHapus
  3. Eh ngakketemu yg pake pakaian dayak nya ??? yg leher nya pake kalung panjang ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh itu tempatnya bukan disini mas hihi

      Hapus

Leave your comment here